Ciloteh Wanipin Serukan Literasi Digital, Jangan Mudah Percaya Rayuan di Media Sosial
PADANG – FAKTAONE. Di balik kemudahan media sosial yang mampu mempertemukan orang dari berbagai belahan dunia, tersimpan ancaman yang semakin mengkhawatirkan. Salah satunya adalah penipuan berkedok cinta atau love scam, modus kejahatan siber yang memanfaatkan perasaan korban demi menguras harta benda.
Belakangan ini, publik kembali dihebohkan dengan kasus seorang korban yang kehilangan uang hingga Rp250 juta setelah menjalin hubungan dengan seseorang yang mengaku sebagai anggota kepolisian. Belakangan diketahui, identitas tersebut hanyalah rekayasa. Pelaku menggunakan foto asli seorang anggota Polri tanpa izin untuk membangun kepercayaan korban.
Modus semacam ini bukanlah hal baru. Para pelaku biasanya membuat akun palsu dengan mencatut foto dan identitas profesi yang memiliki citra baik, seperti anggota polisi, dokter, tentara, hingga pegawai pemerintahan. Setelah berhasil membangun kedekatan emosional melalui percakapan yang berlangsung selama berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, pelaku mulai meminta uang dengan berbagai alasan, mulai dari biaya perjalanan, musibah keluarga, hingga kebutuhan mendesak lainnya.
Fenomena tersebut mendapat perhatian dari Firman Wanipin, pendiri Channel YouTube Ciloteh Wanipin, yang selama ini aktif memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai persoalan sosial.
Menurut Firman, masyarakat harus lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak mudah terjebak dalam hubungan yang hanya terjalin melalui dunia maya.
"Makanya kepada Bapak/Ibu yang suka berselancar di sosial media, apalagi yang sudah memiliki suami atau istri, jangan main hati dengan pria atau wanita lain. Syukuri apa yang Anda miliki sekarang, jangan perturutkan puber yang kedua," tegas Firman.
Pesan tersebut bukan sekadar nasihat moral, tetapi juga bentuk peringatan agar masyarakat tidak menjadi sasaran empuk para pelaku kejahatan digital yang pandai memainkan emosi korbannya.
Di sisi lain, Firman juga mengingatkan bahwa orang yang fotonya dicatut sebenarnya turut menjadi korban. Mereka tidak mengetahui identitasnya disalahgunakan oleh pelaku untuk menipu orang lain.
Karena itu, tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku yang membuat akun palsu dan menggunakan identitas orang lain tanpa izin. Aparat penegak hukum dapat menelusuri pelaku melalui jejak digital, nomor telepon, rekening bank, alamat IP, hingga perangkat elektronik yang digunakan dalam menjalankan aksinya.
Firman pun mengimbau masyarakat agar tidak merasa malu apabila telah menjadi korban.
"Jika menjadi korban, jangan malu untuk melapor ke pihak berwajib. Semakin cepat laporan diterima, maka peluang menangkap pelaku semakin besar," ujarnya.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa kejahatan digital terus berkembang mengikuti kemajuan teknologi. Karena itu, literasi digital, sikap kritis, serta kehati-hatian dalam berinteraksi di media sosial menjadi benteng utama agar masyarakat tidak mudah diperdaya.
Melalui kanal YouTube Ciloteh Wanipin, Firman secara konsisten mengajak masyarakat untuk menjaga etika bermedia sosial, memperkuat keharmonisan keluarga, serta memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang bermanfaat. Pesan tersebut menjadi seruan agar dunia digital tidak dijadikan ruang untuk menebar tipu daya, melainkan sebagai sarana membangun komunikasi, pengetahuan, dan kehidupan yang lebih baik.
TIM

Belum ada Komentar untuk "Ciloteh Wanipin Serukan Literasi Digital, Jangan Mudah Percaya Rayuan di Media Sosial"
Posting Komentar