Surat dari Mak Hitam yang Dibuang Rajo: Catatan Pilu di Balik Megahnya Proyek Internasional
Padang FAKTA ONE. Di sebuah nagari bernama Antah Barantah, pemerintahan dipimpin oleh Rajo Bujang. Ia punya ambisi besar membangun balai adat dengan model kekinian, megah, dan mewah. Orang-orang memuji, “Kini urang Antah Barantah bagai metropolitan, balai adatnya bahkan bisa digunakan main bola. Katanya, bisa diadohkan Piala Dunia, balai adat ko jadi sabana internasional.”
Suatu hari, Rajo Bujang menggelar rapat bersama kroni-kroninya. Dengan penuh semangat ia berucap, “Kita bangun balai adat super internasional. Razo hari, bisa kita gelar Piala Dunia di nagari kita!” Kedatangan tamu-tamu dari luar nagari makin meramaikan pertemuan itu, diiringi tepuk tangan bergemuruh dari pembantu kabinetnya. “Yo sabana hebat Rajo Bujang ko!”
Rajo Bujang bercerita bahwa dana pembangunan akan datang dari Rajo Madangkara. “Rajo Madangkara apak keteknyo,” katanya sambil tertawa. “Siapo sajo nan diminta pasti dibantu. Rajo Madangkara suko makan, apalagi makan bergizi gratis.”
Setelah dana dikumpulkan, Rajo Bujang bersama menteri-menterinya langsung melaksanakan pembangunan balai adat internasional itu. Namun, Sutan Mudo datang dan menyampaikan berita menggugah hati. “Di lahan itu banyak rakyat kita yang cari makan. Mereka bukan cari kayu, tapi cari hidup dan masa depan anak-anak mereka. Jika mereka dipindahkan, bagaimana nasib mereka?”
Rajo Bujang tak peduli. Ia memanggil panglima kerajaan dan mengerahkan pasukan. “Bongkar lapak-lapak rakyat itu, usir saja! Pagar harus dibangun dan dipasangi jago samo. Dubalang yang adoh, biar mereka paham!”
Rakyat yang tersingkir bersepakat mendatangi Mak Hitam, orang yang pandai menulis. Mak Hitam membuat surat keluh kesah yang dikirim ke Rajo Bujang, tapi tak digubris. Surat juga disampaikan ke panglima Rajo Bujang, tapi aspirasi rakyat tetap kandas.
Warga nagari Antah Barantah, yang hidupnya susah dan sehari-hari berkelana mencari makan demi sekolah anak, kini kehilangan harapan. Nagari ini terkenal dengan gaya dan nama besar“Antah Barantah rancak di seluruh nusantara”tapi Rajo Bujang hanya memikirkan megahnya balai adat saja. Ada dua dunia: satu di luar megah, satu di dalam penuh derita.
Sementara itu, Tuanku Janguik Putih, urang tuo kampung, sibuk dengan kerjanya layaknya lalok di surau atau di rumah masyarakat. Padahal nagari baru saja diterjang banjir besar, mencapai batang karambi. Banyak jembatan putus, rumah hilang. Daerah-daerah tersebut belum disentuh bantuan, sementara balai adat megah terus dibangun.
Hidup di Minang memang penuh raso dan pareso. Jangan semena-mena pada rakyat kecil. Ingatlah, karma itu pasti datang.
— Firman Wanipin
#CerpenMinang #NagariAntahBarantah #RajoBujang #KeadilanRakyat #HidupMinang

Belum ada Komentar untuk "Surat dari Mak Hitam yang Dibuang Rajo: Catatan Pilu di Balik Megahnya Proyek Internasional"
Posting Komentar