Telat 5 Bulan dan Mangkrak di Lapangan. Proyek JIAT Rp13,9 M di Bungus Teluk Kabung Gagal Selamatkan Sawah Petani
Padang – FAKTAONE. Harapan ratusan petani di kawasan Bungus Teluk Kabung, Kota Padang, untuk menikmati manfaat pembangunan Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) tampaknya masih harus tertunda. Proyek yang digadang-gadang menjadi solusi mengatasi krisis air saat musim kemarau itu hingga kini belum juga rampung, meski masa kontraknya telah berakhir sejak 31 Maret 2026.
Proyek pengembangan jaringan air tanah dan air baku tersebut merupakan pekerjaan milik Satuan Kerja Non Vertikal Tertentu (SNVT) PJPA WS IAKR Provinsi Sumatera Barat di bawah Balai Wilayah Sungai Sumatera V (BWS V) dengan nilai kontrak sebesar Rp13.976.074.000 yang bersumber dari APBN. Pekerjaan dilaksanakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero) berdasarkan Kontrak Nomor HK.02.03/01/SNVT-PJPA-WS-IAKR/ATAP-II/IX/2025 tertanggal 15 September 2025 dengan masa pelaksanaan selama 228 hari kalender.
Namun berdasarkan hasil investigasi di lapangan pada Selasa (14/7), dari delapan titik Kelompok Tani (Poktan) penerima program JIAT, baru sebagian yang selesai. Beberapa lokasi masih dalam tahap pengerjaan, bahkan ada yang belum dikerjakan sama sekali.
Di Desa Kandangan Bungus, bangunan JIAT terlihat telah selesai. Namun hingga kini fasilitas tersebut belum dapat dimanfaatkan karena operasional jaringan dan mesin pompa belum dijalankan.
"Semenjak JIAT di Desa Kandangan ini selesai, pemakaian dan operasionalnya belum digunakan. Coba lihat, pintunya saja masih dikunci sampai sekarang," ujar Bu Ita, salah seorang petani di Kandangan.
Kondisi serupa terlihat di Perumnas Jeruai Bungus. Di lokasi tersebut masih tampak pekerja yang merapikan bagian pondasi dan menyelesaikan pekerjaan yang belum tuntas.
"Kami hanya merapikan bagian-bagian pondasi yang masih perlu diperbaiki," kata Adi, salah seorang pekerja proyek.
Kondisi yang lebih memprihatinkan ditemukan di Poktan Kayu Aro. Selain akses menuju lokasi yang sulit karena berada di tengah area persawahan, mesin dinamo yang menjadi penggerak utama sistem irigasi disebut telah rusak selama beberapa bulan sehingga petani tidak dapat memanfaatkan jaringan yang telah dibangun.
"Sudah beberapa bulan mesin dinamo JIAT di desa kami rusak. Akibatnya petani kembali berharap hujan untuk mengairi sawah mereka," ungkap seorang warga Kayu Aro.
Sementara itu, di Kampung Rambutan Bungus, warga mengaku hingga kini belum melihat adanya aktivitas pembangunan meski lokasi tersebut masuk dalam paket pekerjaan proyek JIAT.
"Rencananya ada JIAT yang akan dibangun di Kampung Rambutan ini, tetapi sampai sekarang belum ada tanda-tanda pekerjaan dimulai," ujar seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Menanggapi kondisi tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) JIAT BWS V, Dian Citra Wibowo, membenarkan bahwa proyek belum selesai seluruhnya.
Menurutnya, progres pekerjaan hingga 29 Juni 2026 baru mencapai 93,16 persen. Kontraktor telah dikenakan sanksi denda keterlambatan dan proyek juga belum diserahterimakan kepada Pemerintah Kota Padang.
"Pekerjaan memang belum selesai 100 persen. Kontraktor masih menyelesaikan sisa pekerjaan dan proyek belum dioperasionalkan maupun diserahterimakan," jelas Dian.
Sementara itu, Kepala Balai Wilayah Sungai Sumatera V, Rizki, yang telah dikonfirmasi oleh tim media ini hingga berita diterbitkan belum memberikan tanggapan.
Keterlambatan proyek yang telah berlangsung sekitar lima bulan memunculkan sejumlah pertanyaan dari masyarakat. Selain mempertanyakan kepastian penyelesaian proyek, warga juga mempertanyakan efektivitas penerapan sanksi denda kepada kontraktor serta kualitas pekerjaan yang hingga kini baru mencapai progres 93,16 persen.
Masyarakat juga berharap BWS V memberikan penjelasan terbuka mengenai target penyelesaian proyek, kesiapan operasional seluruh titik JIAT, serta memastikan bahwa penggunaan anggaran negara hampir Rp14 miliar benar-benar memberikan manfaat maksimal bagi para petani yang selama ini sangat membutuhkan pasokan air irigasi.
Hingga proyek tersebut benar-benar selesai dan beroperasi, harapan petani Bungus untuk memperoleh irigasi yang memadai masih belum menjadi kenyataan. Mereka pun terpaksa kembali mengandalkan curah hujan demi mempertahankan produktivitas lahan pertanian.
(Tim)
Belum ada Komentar untuk "Telat 5 Bulan dan Mangkrak di Lapangan. Proyek JIAT Rp13,9 M di Bungus Teluk Kabung Gagal Selamatkan Sawah Petani"
Posting Komentar